Pemeriksaan Laboratorium untuk Penunjang Diagnostik Demam Tifoid

  • Cut Murzalina Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Keywords: uji widal, typhidot, kultur, Polimerase Chain Reaction

Abstract

Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit ini bersifat endemis. Gejala yang timbul bervariasi, dari gejala klinis ringan sampai berat, dari asimptomatik hingga gambaran penyakit yang khas, yang dapat disertai dengan sejumlah komplikasi. Sebagian kasus demam tifoid dapat berakhir dengan kematian. Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksan penunjang, termasuk pemeriksaan laboratorium. Dalam diagnosis demam tifoid, pemeriksaan laboratorium meliputi: pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan serologis, kultur dengan cara isolasi kuman, dan pemeriksaan molekuler, seperti Polimerase Chain Reaction (PCR). Uji widal didasarkan pada pembentukan terhadap aglutinin O (dari tubuh kuman) dan aglutinin H (flagella kuman). Uji Tubex termasuk uji semikuantitatif kalorimetrik untuk deteksi antibodi terhdap Salmonella typhi 09. Sebaliknya, uji typhidot dimaksudkan untuk mendeteksi IgM dan IgG pada protein membran luar Salmonella typhi. Pada uji IgM dipstik, digunakan strip yang mengandung antigen lipopolisakarida Salonella typhi. Pada isolasi dan biakan Salmonella, digunakan bahan pemeriksaan berupa: darah, urin, tinja, feses, dan sumsum tulang. Kultur darah dianggap sebagai metode standar untuk diagnosis bakteriemia tetapi hanya mendeteksi 40-70% pasien demam tifoid. Yang menjadi baku emas dalam pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis demam tifoid adalah kultur aspirasi sumsum tulang, dengan sensitifitas lebih dari 80 persen. Pemeriksaan PCR dilakukan dengan mendeteksi DNA (asan nukleat) gen flagelin bakteri Salmonella typhi.

Published
2020-07-27